Contoh Kasus Kecelakaan Kerja Konstruksi – Jumlahnya pembangunan infrastruktur di Indonesia sudah pasti bawa imbas yang bagus untuk pergerakan ekonomi bangsa. Tetapi, lepas dari itu semua, ada sesuatu hal gelap yang perlu dirasakan oleh beberapa karyawan sektor konstruksi. Tahun-tahun ini ini, ada deretan kecelakaan kerja yang berpengaruh fatal untuk beberapa karyawan.

Ini juga memantik sebuah pertanyaan, apakah implementasi dari K3 yang buruk adalah pemicunya?

Tingginya Tingkat Kecelakaan Kerja Bidang Konstruksi

Saat sebelum mengulasnya lebih jauh, Anda perlu ketahui lebih dulu jika sektor konstruksi masih jadi rangking pertama tugas yang paling beresiko dan jadi penyumbang tingginya kecelakaan kerja, bukan hanya di Indonesia, tetapi di penjuru dunia.

Pada umumnya, kecelakaan kerja ini dikarenakan oleh dua hal, yaitu unsafe condition dan unsafe act.

Unsafe condition sebagai keadaan di mana ada ketidaklayakan dan ketidakrapihan tempat kerja, dan keadaan Alat Perlindungan Diri (APD) yang tidak pantas, dan mekanisme peringatan yang tidak mencukupi. Dan unsafe act bisa muncul karena status kerja yang beresiko, jalankan mesin berkecepatan yang beresiko, atau mengusung secara salah.

Baca Juga :

Apa itu Jasa Konstruksi?

Resiko kecelakaan kerja di bagian konstruksi

Beberapa resiko kecelakaan kerja pada sektor konstruksi mencakup:

Dua kejadian pertama dikarenakan oleh kelengahan dari operator dan SOP yang tidak digerakkan seharusnya. Bantalan rel yang hendak terpasang sebenarnya belum pas pada tempatnya, namun dilepaskan memakai alat angkat. Karena dudukan tidak cocok, karena itu bantalan rel jatuh menerpa karyawan.

Kecelakaan kerja pada bidang konstruksi yang terjadi secara terus-terusan ini memunculkan pertanyaan apa kecelakaan ini disebabkan karena jeleknya implementasi dari K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) pada bidang konstruksi?

Bidang Konstruksi Menyumbangkan 32% Kecelakaan Kerja

Sama seperti yang sudah diulas awalnya jika bidang konstruksi ialah industri yang beresiko dan menyumbangkan 32% kecelakaan kerja daripada bidang kehutanan, transportasi, dan pertambangan.

https://www.youtube.com/watch?v=GmZrQ1F6OaM

Pemicu khusus kecelakaan kerja

Kementerian Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan ada lima pemicu khusus yang bisa memunculkan kecelakaan kerja. Salah satunya ialah seperti berikut.

  1. Kelengahan manusia atau human error, yang mana ini dikarenakan oleh kurangnya karyawan yang memperoleh sertifikasi K3. Di tahun 2017, Kadin Sektor Konstruksi dan Infrastruktur menulis cuma ada 150 ribu tenaga pakar bersertifikasi kesemua tingkat, baik pengawas, perencana, dan eksekutor project. Walau sebenarnya, secara bagus, tenaga pakar yang mendapatkan sertifikasi K3 sekitaran 500 sampai 750 ribu orang.
  2. Pemakaian material konstruksi yang belum penuhi standard kualitas.
  3. Perlengkapan konstruksi yang dipakai belum bersertifikasi.
  4. Sistem penerapan konstruksi pada lapangan belum mencukupi khususnya pada faktor K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
  5. Ada efektivitas bujet.

Dari 5 pemicu ini, yang paling jadi perhatian ialah mengenai sistem penerapan konstruksi di atas lapangan. Walau sebenarnya, kelancaran penerapan project konstruksi di atas lapangan akan mengutamakan faktor K3. Program berikut yang bisa jamin dan membuat perlindungan keselamatan dari beberapa karyawan.

Baca Juga :

Kami Juga Menyediakan Geotextile untuk Proyek Konstruksi Anda!

Ramainya kasus kecelakaan yang terjadi pada project konstruksi sudah mengingati jika faktor K3 tidak memperoleh perhatian dari beberapa kontraktor. Walau sebenarnya, K3 ialah faktor yang paling penting dalam penyelenggaraan konstruksi.

Penerapan dan pemantauan project konstruksi masih tetap kurang kuat. Walau sebenarnya, bila K3 diaplikasikan secara baik, karena itu kecelakaan kerja dapat diminimalkan kehadirannya.

Hubungi Kami Untuk Layanan Profesional

Material Kontruksi

Siap membantu Anda dalam mewujudkan kesuksesan proyek


Hubungi Kami Sekarang